Header Ads

MEA 2015 Sebagai Tantangan untuk Mahasiswa

oleh:
A. Fitri Febrianty Fariadi
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin 2015

Negara-negara anggota ASEAN (gambar: thediplomat.com)

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang pada awal pembentukannya pada tahun 1967, lebih ditujukan pada kerja sama yang berorientasi politik untuk mencapai perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Tenggara, dalam perjalanannya berubah menjadi kerja sama regional dengan memperkuat semangat stabilitas ekonomi dan sosial di kawasan Asia Tenggara, antara lain melalui percepatan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan budaya dengan tetap memperhatikan kesetaraan dan kemitraan, sehingga menjadi landasan untuk terciptanya masyarakat yang sejahtera dan damai. Asean yang resmi terbentuk pada tanggal 8 agustus 1967 di Bangkok, Thailand merupakan kerja sama regional didirikan oleh lima negara di kawasan Asia Tenggara yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand berdasarkan kesepakatan ”Deklarasi Bangkok” yang ditanda tangani bersama dan isinya sebagai berikut :
“Membentuk suatu landasan kokoh dalam meningkatkan kerja sama regional di kawasan Asia Tenggara dengan semangat keadilan dan kemitraaan dalam rangka menciptakan perdamaian, kemajuan dan kemakmuran kawasan” (Departemen Dalam negeri, 2009).
Sejak awal didirikan, Asean bercita-cita mewujudkan Asia Tenggara bersatu sehingga keanggotaan Asean terus mengalami perluasan menjadi sepuluh negara anggota yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam tahun 1984, Vietnam tahun 1995, Laos tahun 1997, Myanmar tahun 1997, dan Cambodia tahun 1999 (Asean Documentary series, 1985). Pada awal tahun 1990-an, terdapat 3 dinamika eksternal yang mempengaruhi perkembangan Asean. Pertama adalah terdapat kecenderungan perubahan lingkungan strategis global yang menuntut negara-negara di dunia untuk meningkatkan daya saingnya. lalu melemahnya daya saing Asean akibat munculnya kekuatan baru China dan india pada tataran regional, terdapat gerakan ke arah pengintegrasian kekuatan ekonomi yang berbasis pada pasar tunggal (single market) dan produksi tunggal yang terintegrasi (single production) (edi Yusuf, 2009).

Dalam integrasi ekonomi akan dijumpai dua kepentingan yang saling berlawanan yaitu antara mendorong perdagangan dan membatasi perdagangan pada saat bersamaan. Integrasi ekonomi dilakukan dengan melakukan liberalisasi perdagangan antara negara yang berpartisipasi dalam integrasi, namun pada saat yang sama juga menerapkan berbagai hambatan baik tarif maupun non-tarif kepada negara ketiga atau negara di luar anggota. Kebijakan liberalisasi maupun kesepakatan integrasi tersebut digunakan sebagai alat untuk mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan mendorong pertumbuhan dalam rangka meningkatkan kemakmuran. (Thongphane savanphet, 2006).

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan diberlakukan pada tanggal 31 Desember 2015, dimana kawasan Asean akan menjadi pasar terbuka dan kesatuan yang berbasis produksi; serta mobilitas arus barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja akan bergerak bebas. terdapat empat pilar masyarakat ekonomi Asean yaitu kawasan ekonomi berdaya saing tinggi, pertumbuhan ekonomi yang merata, integrasi ke perekonomian global dan pilar terakhir adalah menjadikan Asean sebagai pasar tunggal dan kesatuan basis produksi melalui barang dan jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil (Bappenas 2009).

Sebagai upaya untuk mendukung arus bebas tenaga kerja dan memfasilitasi pergerakan disusunlah Mutual Recognition Arrangement (MRA) sebagai suatu kesepakatan antar negara Asean dalam beberapa aspek untuk saling menerima dan mengakui adanya perbedaan antar negara dalam hal pendidikan, pelatihan, pengalaman dan persyaratan lisensi untuk para professional yang ingin berpraktik sehingga diperoleh suatu kesetaraan

Hingga tahun 2009, yang telah disepakati oleh Asean yaitu MRA untuk jasa-jasa engineering, nursing, architectural, surveying qualification, tenaga medis (dokter umum dan dokter gigi), jasa-jasa akuntansi dimana semua MRA ini ditandatangani oleh para Menteri ekonomi Asean (Departemen Perdagangan Dalam Negri Indonesia, 2009).

Data Human Development Index (UnDp, 2011) memperlihatkan Indonesai berada di posisi 124 dari 187 negara. Posisi Indonesia masih kalah dari negara Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, Filipina dan hanya berada di posisi lebih baik dibanding Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar.

Sangat tidak disadari bahwa waktu berlalu begitu cepat dimana kita sebagai bangsa Indonesia di tuntut untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi MEA 2015 dengan indikator utamanya yaitu kesiapan tenaga kerja yang dapat bersaing dengan negara lain. Masyarakat Indonesia sudah seharusnya peka dalam menanggapi isu-isu kekinian dan terus berkembang seiring dengan waktu yang terus berputar, dalam hal ini salah satu yang sangat berperan utama adalah Mahasiswa.

Mahasiswa dengan perannya sebagai "Agent of Change" serta calon tenaga kerja terdidik harus siap dalam menghadapi MEA yang mulai diberlakukan akhir 2015 dan sudah sepatutnya termotivasi untuk terus meningkatkan dan mengasah kemampuan diri agar mampu bersaing dengan negara lain. Maka dari itu ketika masih berada dalam naungan perguruan tinggi, dengan berbagai sarana dan prasarana yang mendukung, mahasiswa harus terus memanfaatkan kesempatan dengan tetap belajar dan menggali ilmu serta informasi yang lebih dan tidak pernah merasa puas akan apa yang telah diperoleh. Karena salah satu wajah utama dari kesuksesan sebuah negara selain Pemerintahannya, juga mahasiswanya.

DAFTAR PUSTAKA
  • Asean Document. 1985. ASEAN Document Series 1967-1985 hal 2. Jakarta : Asean Aecretariat. Bappenas. Persiapan daerah Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. 2009. kementrian Bpn/Bappenas.
  • Benny dan Kamarulnizam. 2011. Indonesian Perceptions and Attitudes toward the ASEAN Community.Journal of Current southeast asian affairs. Depdagri. Menuju ASEAN Economic Comunity 2015. 2009. Jakarta : Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.
  • Edi Yusuf, dalam seminar Komunitas Ekonomi Asean 2015 dan Implikasinya bagi Indonesia, Departemen luar negeri RI di Universitas indonesia, Jakarta, 12 Februari 2009.
  • Thongphane Savanphet, ASEAN-China Dialogue Relations: Present and Future, dalam China’s. UnDp : Human Development Report 2011.
  • Abda'i, Yusfane. dkk. 2015. Kesiapan Perguruan Tinggi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.