Header Ads

Unforgottable - Sebuah Cerpen


Langkahku terhalau oleh nostalgia yang kembali bergema,
Hanya senyum yang kuurai tatkala kerinduan itu kembali menyapa,
Namun apa rindu ini cinta yang kupendam sekian lama,
Atau hanya sekedar rindu yang bila tersapu cahaya tak lagi bertahta..

5 tahun yang lalu..

Hari-hariku terpatri sempurna oleh hadirnya, si cuek yang selalu sukses memendar cinta yang memang hanya tercipta untuknya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga bertahun telah kulalui. Begitu banyak kisah yang telah kami bagi pada sang semesta. Oh Tuhan bahagiaku memang hanya saat kubersamanya..

Bukan mudah menyatukan segala beda, hadirnya buatku belajar memaknai arti mengalah, yah mengalah untuk setiap sikap yang entah sadar atau tidak sering kali lukaiku. Terkadang terpikirkan apa yang buatku bertahan sejauh ini? Lalu kembali tersadar bahwa orang-orang di luar sana pun berjuang mati-matian menyatukan cintanya hanya tuk sebuah kata "bahagia"..

Masa SMA sebentar lagi berakhir. Berjuta angan kini menari-nari dalam sanubariku, akan kulangkahkan ke mana pijakanku setelah kulalui masa ini. Tak sabar rasanya berbagi angan dengannya, seperti apa mimpinya setelah lulus nanti? Ah pasti tak jauh beda denganku, meski berbeda pun kuyakin dapat menyatu dengan persepsiku..

"Have you ever think about our future after finished all of this?"
Tanyaku padanya yang sedang asyik memainkan smartphone-nya.

"Huh? What? Actually i dont care about that. Dari dulu papa sudah memimpikan anaknya melanjutkan study di Jepang seperti dia, so, mungkin jalan kita akan berbeda nantinya, mungkin kita akan jarang bertemu, bukan jarang sih tapi bakalan sekali bertemu dalam setahun".

Jawabnya dengan enteng. Hatiku seketika tertampar deburan luka yang sesaat tak dapat kuredam, bagaimana mungkin dengan entengnya dia menyepelekan jarak yang akan menjadi sekat untuk kami nanti.
"Sayang, planning kamu masih bisa kamu fikirin lagi, kan? Kalo kamu pergi ke sana, aku di sini sama siapa? Siapa yang bakalan antar jemput aku, hibur aku kalo lagi badmood, marah-marah nggak jelas sama aku, ato bahkan sekedar megang tangan aku kalo lagi jalan di keramaian.." Ujarku dengan wajah memelas.

"Kamu harus dewasa, kamu harus mandiri. Sampai kapan kamu mau bergantung sama orang lain? Aku nggak mau punya pasangan yang cengeng kayak kamu. Apa 2 tahun ini nggak cukup kita sama sama? Melalui semua hal bersama?"

Kembali kudengar seruan yang tak henti menyayat sembilu hatiku.
"Gini aja daripada kamu punya pasangan yang cengeng kayak aku, gimana kalau kamu nyari cewek lain aja? Yang lebih strong, yang bisa ngadepin semua egois kamu". Jawabku tanpa fikir panjang.

"Oke, kalau itu mau kamu. Kamu fikir aku mau menukar mimpi ayahku untuk cewek yang baru 2 tahun hadir dalam hidupku". Ujarnya dengan enteng sambil kembali memainkan smartphone-nya.

"Makasih yah buat semuanya, aku baru nyadar ternyata aku udah ngelewatin 2 tahun berharga dalam hidupku dengan orang nggak punya hati kayak kamu." jawabku seraya beranjak dan berjalan menjauh darinya.

Bagaimana mungkin dia tega mengatakan hal itu? Cewek yang baru dia kenal katanya? Terus, 2 tahun yang kami lewati bermakna apa? Hanya sekedar angin lalu? Apa aku hanya penghiburnya saat jenuh? Oh Tuhan mengapa tak kau rengkuhku dalam dekapmu saja? Mengapa harus kulewati kenyataan ini saat segala hidupku bergantung padanya.

Gerutuku dalam hati.

Hari-hari terakhir masa SMA kulalui dalam kelam. Menunggu saat-saat pengumuman dengan harap-harap cemas. Sudah tepat seminggu aku dan dia tak bertegur sapa, bahkan hanya sekadar menanyakan sedang apa dan dimana pun tak lagi ada. Berat merelakannya begitu saja, namun sampai kapan kuharus bergantung padanya saat rasanya pun mungkin tak lagi ada.

Saat yang dinanti pun tiba, hari dimana kata lulus itu begitu menenangkan jiwa. Satu langkah kini telah terlewati sempurna. Bahagia dan pilu kini bergema, bahagia menyelesaikan satu lagi kewajibanku sebagai seorang anak. Pilu karna sebentar lagi dia akan pergi. Dia yang akan selalu aku cintai..

5 tahun kemudian..

"Cantik sayang, kamu bakalan jadi pengantin yang paling cantik sepanjang masa, hehe." Kata bang Rio memujiku. Ah baju pengantin ini memang sesuai keinginanku. Gaun putih sederhana di atas lutut dengan bagian dada tertutup dan berhiaskan kristal bening yang harganya kutebak mencapai jutaan. Mulanya kusarankan tuk menyewa baju pengantin saja.

Tapi begitulah bang RIo, tunanganku yang sejak 3 tahun lalu mengisi hari hariku, dia selalu membuatku tampil bak bidadarinya. Senyumannya begitu teduh, lengkap dengan kasihnya yang tak berbatas semu. Oh Tuhanku, sebentar lagi ku kan bersanding dengannya, lelaki yang rela bekerja keras tuk segera meminangku di sisinya. Bertemu karena tidak sengajaan.

Bang Rio dulu sahabat Ari, yah lelaki yang meninggalkanku tuk mengejar impiannya. Hanya dia yang selalu bisa memahami setiap kesedihanku. Menemaniku melalui hari-hari berat melupakan segala kenangan buruk dalam hidupku. Teduhnya cinta berbeda kini kurasakan bersamanya. Bukan cinta menggebu-gebu layaknya cinta memasuki masa ABG yang rela tanggalkan segala demi sukma bertahta cinta. Tak sungkan ia kenalkanku pada orang tuanya, takjubku pun terhenti tatkala ia tanpa pikir panjang meminangku langsung di depan kedua orang tua yang telah besarkanku dengan kasih tulusnya.

Sungguh bahagiaku memilikinya..

"Sayang? Maaf abang nggak bisa nemenin kamu cek lokasi resepsi kita. Abang tiba-tiba dapat job dari bos, duitnya lumayan buat nambah modal buat beli perabot rumah kita nanti." Katanya dengan nada menyesal dibalik telpon pagi ini. Kuiyakan, yah ku mengerti kesibukannya, kumengerti jerih payah yang tak henti ia persembahkan tuk bahagiakanku sebagai pendampingnya kelak. "Adek sayang kamu bang.."

"Mbak gimana? Puas dengan dekorasi hotel kami?"
Suara itu tiba tiba kagetkanku, saat kusedang asyik menikmati suasana ruangan yang dipenuhi bunga bunga pink, tepat seperti anganku selama ini. Tapi suara tadi sepertinya tak asing lagi, kutorehkan pandanganku dan benar dia bukan sosok yang asing lagi dihidupku.

"Kamu? Ngapain disini?" Tanyaku terbata.
"Selamat yah Din, Rio akhirnya yang kamu pilih mendampingi kamu." Ujarnya tersenyum.
"Kamu tau dari mana? Kamu kerja di sini? Sekolah kamu?" Tanyaku bertubi, sungguh hadirnya kagetkanku.
"Sudahlah, Din. aku udah nentuin pilihan hidupku bekerja di sini, setelah tamat sekolah aku izin ayah untuk nyari kerja sesuai passion aku, keinginan aku, aku nggak mau terus-terusan hidup di bawah tekanan ayah. Cukup aku ngorbanin kamu dulu, aku nggak mau kehilangan bagian berarti dalam hidupku lagi." Terangnya.

Jawabnya sungguh buatku terpana, ternyata kini telah ia sadari kesalahannya. Namun ke mana ia dulu? Pergi begitu saja dengan kejamnya. Ah, sudahlah ia adalah masa laluku.
"Semoga kamu bahagia Ri dengan pilihan hidupmu, semoga kamu nggak meninggalkan bahagiamu demi sebuah ambisi lagi nantinya," kataku seraya pergi meninggalkannya dengan senyum.

Apa harus bilang bang Rio? Ah sudahlah, ngapain musingin masa lalu. Aku harus fokus, harus fokus. Gerutuku dalam hati, ah Jakarta memang selalu macet jam segini. Kuinjak pedal gas dan rem bergantian menghalau penat fikiran. Mengapa bayangannya terus menari-nari dalam benakku? Pergi dengan sesialan itu dan sekarang hadir tanpa permisi, memang sialannn, ahhhh aku benciiiiiiii :')

Seminggu lagi kutanggalkan predikat lajangku. Berbenah, mempersiapkan diri menjadi istri terbaik untuk abang nanti. Namun mengapa bayangan itu tiba-tiba bergema kembali, indahnya masa lalu yang sempat buatku terpuruk dan...
titttttt titttttt..... suara bel rumah itu kagetkanku. Ah siapa yang bertamu jam segini? Jam 9 malam? Gerutuku dalam hati. Segera ku mempercepat langkah kelantai dasar kediamanku dan membuka pintu, dan aku terpaku melihat sosok itu hadir di hadapanku. Ari? Belum sempatku berucap lagi dan tubuhnya tiba-tiba terjatuh dalam pelukku. Ari? Ri? Kamu kenapa? Tanyaku cemas. Dengan susah payah kugiring iya ke sofa, badannya berat sekali.... berjuta tanya kini hadir dalam benakku? Mengapa iya datang ke sini? Tiba-tiba dan dengan keadaan tak sadar pula. Haruskah kubiarkan ia di sini sampai tersadar? Atau kuhubungi saja bang Rio? Ah tidak bang Rio bisa saja berpikir yang tidak-tidak. Biarlah dia terlelap di sini. Kuambilkan selimut dan aku pun kembali ke kamarku. Mencoba memejamkan mata dengan sejuta pertanyaan..

Teriknya mentari menyilaukan pandanganku, segera kuterbangun dan berlari lari kecil ke bawah, mengingat Ari semalam tak sadarkan diri di sana. Dan tak kudapati ia di sana, selimut yang ia kenakan semalam pun telah terlipat rapi. Hanya ada sepucuk surat di atasnya..

"Peluhmu khawatirkanku sungguh bahagiakanku.. Kutunggu kau di cafe tempat kita dulu bersenda gurau, Datanglah bila masih ada aku dihatimu, Abaikanlah bila cinta itu tak lagi tersisa untukku.. "

Ahhhh aku mengutuk hadirnya, aku mengutuk hatiku yang sialan itu, yang tak dapat kupungkiri masih menyimpan cinta untuknya. Lamunanku terhenti saat dering telpon rumahku berbunyi.
"Sayang?" Suara teduh itu terdengar, yah suara bang Rio, tak kusangka dapat seteduh ini.
"Ii, iiyaa bang? Ada apa?" Jawabku terbata.
"Kenapa sayang? Kamu lagi sakit yah?" Tanyanya khawatir.
"Nggak kok bang, adek rindu abang. Kataku.
"Sabar yah sayang, 2 hari lagi abang pulang. Nggak sabar rasanya meminang adek jadi istri abang." Katanya.
"Iya bang adek juga. "Jawabku. "Abang kerja lagi yah?"
"Nanti abang kabarin lagi, kamu baik baik yah dis ana. Jangan nakal hehe abang sayang sama adek." Katanya dan segera menutup telfonnya.

Oh tuhanku, cobaan apa ini,. Aku rapuh dengan cinta yang Kau anugrahkan. Pada siapa kulabuhkan kasihku kini? Sungguh ku menginginkan keduanya temani hidupku, aku sungguh egois, aku jahat membiarkan hatiku kembali terpatri pada cintaku dahulu :')

Mini dress hitam kini menyatu apik dengan tubuh mungilku. Kuinjak pedal gas perlahan, sedih, marah, bahagia kini bercampur aduk menjadi satu. Berjuta kali kutolak hasratku menemuinya, namun bayangan masa lalu itu tak henti dan terus mengiringku ke tempat kami biasa bersenda gurau dahulu..

"Aku tau kamu bakalan datang sayang." Katanya dengan senyumnya yang selalu sukes luluhkan hatiku. "Aku bakalan bantuin kamu bicara sama RIo, yakinin dia kalo yang ada dihati kamu cuma aku. Tenang aja yah sayang, semuanya bakalan baik-baik aja, abis kamu bicara dengan RIo, aku bakalan ngelamar kamu, dan kita bakalan hidup bahagia." Terangnya dengan mata berbinar. Aku hanya menjawab dengan senyuman, sungguh jawabannya goyahkan hatiku.
"Kamu mau makan apa sayang? Jus apel nggak pake gula sama mi goreng? Hehe aku masih ingat makanan kesukaan kamu." Katanya.

"Hmm nggak usah Ri, sebenarnya aku kesini mau ngomong serius sama kamu." Kataku.
"Iya sayang aku tau, kamu masih sayang kan sama aku?" Jawabnya. Hembusan nafas kutarik perlahan.
"Ri, Kurang seminggu aku bakalan dipinang bang RIo, aku mau kamu nggak ganggu hidup aku lagi!" Ujarku mantap.

"Din? Kamu becanda kan sayang? Ini aku, aku masih sayang kamu maafin aku, aku janji nggak bakalan ninggalin kamu lagi." Katanya seraya menggenggam jemariku.

"Ri, aku memang nggak bisa sepenuhnya lupain kamu, tapi bang RIo udah nyadarin aku bukan cinta kamu yang aku butuhin di hidup aku. Andai kamu ngomong gini 5 tahun lalu mungkin keadaannya bakalan beda, tapi yah sudahlah. Aku harap kamu bisa nemuin yang lebih dari aku. Aku mau kamu janji, nanti kalau kamu udah nemuin belahan jiwa kamu, kamu jangan ninggalin dia lagi kayak aku, karena mungkin nggak bakalan ada lagi kesempatan buat kamu, buat meluk dia di sisi kamu."

Kataku seraya perlahan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan pergi.

Aku sedih meninggalkannya. Namun aku bahagia sudah berani beranjak meninggalkan cinta yang hanya menyajikan luka. Sudah cukup ia buatku menderita dulu. Kenangan indah bersamanya kini telah pergi tersapu bahagia yang dihadirkan bang Rio, cinta sejatiku kini..

Cinta itu indah, namun bukan indahnya yang buatmu bertahan..
Namun karna mengerti dan memahami arti hadirnyalah,
Hingga sedetik pun angan tuk pergi tak lagi ada berjalan..

Oleh:
Nurul Faikha
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin 2013

gambar ilustrasi: log.viva.co.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.