Header Ads

Surat Cinta untuk Almamater Merah

Gedung rektorat Unhas via https://www.instagram.com/nini_nhi/
Harus kemana lagi kuutarakan segala resah yang menghinggapi pikiran. belajar pun tak fokus, ditambah lagi makan susah, sering ku bertemu denganmu membahas permasalahan ini, namun kamu tetap selalu yakin dengan keputusann argumenmu, tak pernah memihak kepadaku. Justru kamu lebih memilihnya ketimbang aku. 

Aku kecewa, bahkan kamu tak mendengarkanku, hingga sering ku harus berteriak-teriak mengatakan kepadamu aku tidak setuju dan bahkan dengan tegas menolak statusmu yang kini akan berubah. mereka mahasiswa, kau tak sudi lagi mendengarnya, kini casingmu mulai berganti PTN-BH, aku tidak setuju jika kau berubah, aku bahkan tidak menginginkan kamu berubah. aku lebih memilihmu yang dulu. tahu tidak kenapa? 

Merah membuat kami berani menentang segala bentuk ketidakadilan ini, merah ini selalu membuat kami semangat untuk berjuang, jangan tanyakan kami adalah seorang provokator, aku bahkan lebih dari sekedar itu. tahu tidak aku sangat mencitaimu almamater merahku, UNIVERSITAS HASANUDDIN. jikalau darah harus menetes maka biarlah menyatu dalam almamater sebagai jubahku, namun jikalau tubuh harus berjalan tertatih maka biarlah tanah, matahari, dan debu menjadi saksi pembuktian, dengarkanlah surat cintaku padamu, Universitas Hasanuddin.

Mahasiswa Unhas tolak PTNBH - gambar spesial dari Humas Bem Kmfs Unhas via facebook
Dulu tahun 2012, aku selalu yakin denganmu yang akan mampu membuka cakrawala berpikirku, menjadikanku mampu mengoptimalkan segenap potensi kecerdasanku, melakukan kegiatan-kegiatan menarik pengembangan soft skill, menyediakan wadah pengembangan pengetahuan, dan menjadi tempat lahirnya generasi-generasi pembaharu.

Namun kini, kau telah berubah menjadi PTN-BH, bahkan sifatmu yang spesial kamu sebut otonom akademik dan nonakademik. Lantas kini, kamu telah memenjarahkanku, apa yang bisa aku perbuat bahkan segalanya kamu urusi, lantas kini potensi kecerdasanku meliputi pengetahuan, emosional, dan psikomotorik kini kamu batasi. bagaimana bisa ku terlahir menjadi seorang pemimpin pembaharu jika jantung dan hatiku telah kau penjarakan, kini kamu mulai meninggalkanku tanpa memperdulikan sikapku lagi.

Jika pada masa penjajahan hak asasi hidup telah ditindas, namun dengan semangat pembebasan lebih baik mati dalam kehidupan daripada hidup dalam penjajahan dan penindasan. Hingga zaman saat itu mulai bergerak, disebutkan oleh Takashi Siraishi 1912-1926, semua elemen bangkit dan disebut zaman bergerak hingga kemudian kemerdekaan Indonesia tercapai sebagai kado hidup selanjutnya. Aku mengganggap penindasan dan ketidakadilan itu tidak akan terjadi lagi karena kamu Soekarno-Hatta adalah pemimpinnya, orde lama adalah sebutannya. 

Namun tidak, justru kamu juga seperti itu. Hingga kami sepakat untuk menjatuhkanmu. kamu terjatuh dengan suara kesedihan dan kebahagian, karena telah manghadirkan bangsa ini, namun orde baru adalah pelanjutnya dan Hatta adalah pemimpinnya, tapi kebahagiaan itu sirna, masa pembungkaman idealitas. Bahkan hak asasi pengeatahuan untuk bersua terlarang, namun dengan kesadaran kritis seluruh masyarakat, mahasiswa, buruh, petani, dan kelompok masyarakat lainnya mampu membuatmu mengerti dan memahami perasaan kami bahwa kami juga ingin hidup layak, kami juga ingin bahagia, dan kami ingin hidup tanpa ada tindakan pembungkaman idealitas. Karena urusan moral biarkanlah kami cari metode live in "merangkul dan mencerdaskan masyarakat untuk bergabung menumbangkanmu", jiwa kritis kami pupuk. 

Masa 1998 reformasi bangsa berharap cita-cita luhur bangsa ini terwujud, namun sejak 18 tahun reformasi casing bangsa telah sirna dimakan rayap namun antek-antek penindas masih hidup di dalamnya menjadi nyamuk menghisap darah tubuh manusia lainnya, menggunakan berbagai cara hanya sebuah kekuasaan niat memperbaiki bangsa dinomor duakan kepentingan pribadi diutamakan dibanding kepentingan publik rakyat menangis meminta sesuap nasi sedangkan kamu tertawa tidak memperdulikannya, banyak yang mampu meraih jabatan dan kekuasaan, namun tak bisa menjadi seorang pemimpin. BPS RI 2015 dilaporkan jumlah penduduk indonesia +/-252.370.792 orang, pengangguran 7.560.000.000 orang dan tingkat inflasi 3,35% dan jumlah pengangguran terdidik Indonesia 2015 1,05 juta orang atau 13,94% dari total 7,56 juta orang. 

Almamater merah, itu hanyalah secuil permasalahan bangsa ini, yang seharusnya engkau hadir sebagai solusi atas ketimpangan yang terjadi namun justru engkaupun hadir menambah permasalahan kami, kini engkau komersialisasikan pendidikan, neoliberalisme menjadi peganganmu. tujuan bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, namun kamu justru mencotohkan kepada kami bahwa segalanya hanya uang dan uang. Pendidikan takkan maju tanpa ada uang, kini asetmu juga kau naikkan. perut menangis, keluarga pusing, mahasiwa mengemis. Kau bilang asetmu kini ada tiga triliun, harga aset pemasukan 600 juta, kamu bagi sistem SPP menjadi uang kuliah tunggal namun ternyata bukan hanya tunggal tapi duanya harus ikut, ruang masyarakat ilmu harus dibudidayakan bukan sepihak menskorsing, menutup kegiatan mahasiswa atas nama kekuasaan, bukan tak pernah pengetahuan itu dibungkam karena kita adalah masyarakat ilmiah. seyogianya junjunglah tinggi ilmu itu bukan hanya justru memperjual belikan pendidikan kayak dagangan.

Memang saat ini kamu belum sepenuhnya berubah status, namun dengarkannlah curahan hatiku, aku tetap menginnginkanmu Unhas menjadi Badan Layanan Umum. Namun jika kau tetap pergi maka kamipun akan tetap berdiri di sini bersama almamater merah untuk menarikmu kembali kejalan yang benar, dan sekalipun konfrontasi harus dilalui bahkan darah, tanah, keringat, dan ucapan akan menjadi saksi penolakannku terhadapmu.

Semoga Tuhan, merahmati.
Salam kebebasan berpikir! Pendidikan adalah pencerdasan, bukan pendidikan adalah dagangan. 
Camkan baik-baik!

-Mahasiswa Unhas yang selalu memikirkanmu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.