Musyawarah Anggota UKM Critis 2017


Bem KEMAFAR-UH. UKM Critis merupakan salah satu UKM ditubuh kemafar yang bidang utamanya bergerak dalam pergerakan keilmiahan di kalangan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Salah satu agenda yang dilaksanakan UKM Critis ialah Musyawarah Anggota.

Pembukaan Musyawarah Anggota UKM Critis dilaksanakan hari selasa (19/12/2017) bertempat di Aula Lt. 4 Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Pembukaan Musyawarah Anggota UKM Critis dihadiri oleh Presiden BEM KEMAFAR, Ketua MAPERWA, Ketua-Ketua UKM dan Anggota KEMAFAR UNHAS. Kegiatan Musyawarah Anggota merupakan salah satu rangkaian kaderisasi oleh UKM Critis dalam kepengurusan berikutnya.

BEM KEMAFAR UNHAS Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H


Bem KEMAFAR-UH. Departemen Kerohaniaan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan keagamaan yakni memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Acara ini digelar Hari Rabu 20 Desember 2017 bertempat di Aula Laboratorium Baru Lt.4 Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini diikuti sedikitnya 40 orang dan beberapa dosen yang turut menghadiri acara tersebut.

Kegiatan Maulid Nabi Muhammad Saw ini bertemakan "Keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai spirit dalam mencapai prestasi". Kegiatan ini diisi dengan ceramah agama yang dibawakan oleh Ustadz Askar Yaman, S.Pd., M.Pd. 

Dalam Tauziahnya, beliau menjelaskan tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menyampaikan ada 3 poin yang penting untuk meraih prestasi dengan melihat akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, yaitu poin pertama yaitu harus sabar, tekun dan fokus dalam mencapainya, yang kedua berakhlak baik dan terakhir perbaiki hubungan silaturahmi dengan orang lain.

Manfaat dari kegiatan ini ialah mahasiswa dapat mempelajari akhlak dan kebiasaan Nabi Muhammad SAW dalam keseharian dan menjadikannya sebagais untuk spirit mencapai prestasi.

AKTIMASI 2018 Coming Soon On January 2018


BemKEMAFAR-UH. Aktimasi (Ajang Kreativitas Mahasiswa Farmasi Universitas Hasanuddin). Ajang aktimasi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Farmasi Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini bertujuan untuk saling silaturahmi untuk seluruh mahasiswa dan alumni.

Kegiatan Aktimasi ini diselenggarakan bulan januari 2018 mendatang. Ajang-ajang lomba yang diperlombakan yakni dibidang kesenian dan keolahragaan.


Talk Show Alumni Berbagi Season 1 dengan Tema “ Berani Berkarya Berani Sukses”




Bem KEMAFAR UH. Alumni Berbagi merupakan program kerja yang diusung oleh Departemen Hubungan Luar BEM KEMAFAR Periode 2017/2018. Dalam Program kerja Alumni Berbagi Season 1 ini mengusung tema Berani Berkarya Berani Sukses. Di season 1 ini, bertujuan memberikan informasi dan mampu memotivasi peserta dengan menghadirkan alumni-alumni luar biasa. Kegiatan ini menghadirkan kanda Budiman Yasir, S.Si., Apt. dan kanda Qonita Kurnia Anjani, S.Si., sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30 November 2017 bertempat di fakultas farmasi. Kegiatan Talk Show disambut sangat senang oleh para peserta terlebih disaat para kanda-kanda memberikan motivasi dalam mengejar mimpi-mimpi mereka. Kanda Budimana Yasir, S,Si., Apt. merupakan Presiden BEM KEMAFAR Periode 2015/2016 dan Qonita Kurnia Anjani merupakan Student Exchange Officer untuk Indonesia pada IPSF (Internationala Pharmaceutical Student Federation ) 2014-2016. Mereka berbagi informasi tentang aktivitas-aktivitas yang pernah mereka lakukan saat masih menempuh Srata 1.
Kegiatan Alumni Berbagi, akan terus berlanjut dan saat ini Dept. Hubungan Luar, sementara mengusung untuk kegiatan Alumni Berbagi Season 2.

Resensi Buku Sophismata : Politik dan Cinta





Satu mingu yang lalu, saya meminjam sebuah buku dari lapak baca (LaBa) yang diadakan oleh BEM KEMAFARU-UH. Waktu peminjaman buku tersebut terbilang singkat, yaitu satu minggu. Namun untuk buku bergenre novel, satu minggu adalah waktu yang lebih dari cukup. Hal tersebut yang mengilhami saya memilih buku sophismata-karya Alanda Kariza. Saya tertarik untuk membuat ulasan tentang buku tersebut karena menurut saya cerita yang diusung Alanda terbilang baru dalam sejarah perbukuan Indonesia. Heehe

Sophismata merupakan salah satu novel yang bercerita tentang cinta dan politik. Dalam peluncuran bukunya pada tanggal 9 Juli 2017 lalu Alanda Kariza menyatakan bahwa alasan dia menulis buku dengan gabungan antara cinta dan politik karena kurangnya anak muda yang terjun langsung dalam politik praktis. Menurut saya hal tersebut sangat inovatif mengingat kebanyakan novel yang beredar saat ini kebanyakan mengenai cinta. Namun, setelah membaca buku tersebut saya merasa bahwa pesan yang ingin disampaikan Alanda masih tidak "menggigit" karena cerita politik yang diangkat terlalu dangkal.

Tokoh utama sophismata ialah Sigi, seorang wanita staf DPR lulusan Administrasi Negara dan juga sangat tidak menyukai politik.Hal tersebut merupakan anomali bagi Sigi karena bekerja pada tempat yang justru sangat dekat dengan politik.  Sigi menjadi staf untuk Johar Sancoyo- anggota DPR komisi IV. Johar Sancoyo merupakan mantan aktivis 1998 namun memutuskan menjadi politisi. Sigi bergabung menjadi staf Johar semata-mata karena ingin belajar dan membawa perubahan untuk negaranya dengan jalur legislative. Tiga tahun bekerja sebagai staf administrasi membuat Sigi berambisi untuk menjadi Tenaga Ahli (Lebih tinggi dibandingkan Staf Administrasi) namun Sigi terbentur masalah pendidikan karena aturan utama untuk menjadi Tenaga Ahli yaitu lulusan S2. 

Kisah Sigi memperjuangkan promosi agar diangkat menjadi Tenaga Ahli diselingi pertemuannya dengan salah satu politisi muda bernama Timur. Kehadiran Timur membawa perubahan yang signifikan bagi karir dan cinta  Sigi. Sigi dan Timur menjadi sepasang kekasih ditengah kesibukan Timur mengurusi partai politik yang baru ia dirikan. Pada akhir cerita, Sigi memutuskan berhenti menjadi staf Administrasi karena merasa pekerjaan yang selama ini ia lakukan tidak diapresiasi oleh atasannya. Disisi lain, cerita cinta antara Sigi dan Timur dikemas menarik oleh penulis. Romantis. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa percakapan antara Sigi dan Timur
"Jadi, Kamu mau yang mana? Hitam atau Putih? Tanya Timur
"Kamu belum kasih tau juga hitam artinya apa dan putih artinya apa. Yang mana yang berarti bisa sama kamu terus dan mana yang berarti sebaliknya" ujar sigi
"Either way, I̕m not letting you go" jawab Timur

Menurut saya buku ini sangat cocok bagi teman-teman yang sedang mencari bacaan yang tepat untuk melepas penat selama masa ujian. Perpaduan sempurna antara politik dan romantisme yang dikemas dalam satu buku. Menarik bukan?
Oh iya, di buku tersebut juga banyak potongan-potongan kalimat yang bisa menjadi caption foto instagram, yang dijamin instagram-able.

- Irmayani Said-

Press Release of Interactive Discussion " Exit Exam"


[Interaktive discussion, 25 November 2017]

Exit Exam
            Exit Exam merupakan bentuk uji kompetensi yang dilakukan sebelum mahasiswa lulus dan menyandang gelar profesi dalam hal ini profesi Apoteker. Berawal pada tahun 2013, UKAI (Uji Kompetensi Apoteker Indonesia) dijadikan sebagai persyaratan kelulusan profesi apoteker namun masih berjalan sebagai ujian formatif (uji coba) selama 2 tahun. Isu terkait Exit Exam kini kembali hangat dibicarakan oleh mahasiswa profesi apoteker maupun mahasiswa farmasi karena tidak hanya UKAI, OSCE (Objective Structured Clinical Examination) kabarnya akan dimasukkan pada rangkaian Exit Exam. Hal ini menimbulkan rentetan pertanyaan.
            Sejarahnya, ditahun 2003, BPP ISFI (Badan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia) membuat buku standar kompetensi farmasi. Barulah tujuh tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2010, dibuat draf SKAI (Standar Kompetensi Apoteker Indonesia) di Makassar, Sulawesi Selatan. Lahirnya standar kompetensi ini berkaitan dengan era APTA (Asia-Pacific Trade Agreement) yang memungkinkan pertukaran jasa yang dilakukan setiap negara. Apoteker dari Indonesia dapat bekerja diluar negeri begitupun sebaliknya. Tidak adanya standar kompetensi yang menjadi pedoman dan persyaratan untuk tenaga profesi di Indonesia membuat pihak HPEQ ( Health Professional Education Quality) dan APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) serta pengurus IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) merumuskan Buku Standar Kompetensi Apoteker Indonesia.
Setelah draf SKAI disahkan, muncullah isu ujian kompetensi yang diharapkan menjadi tolak ukur mutu yang terstandar secara nasional. Mengingat terdapat 63 fakultas farmasi prodi apoteker yang tentunya memiliki kurikulum yang berbeda maka dibutuhkan pemerataan mutu yang diterapkan dalam bentuk exit exam . Hal inilah yang membuat UKAI menjadi salah satu persyaratan kelulusan perofesi apoteker di tahun 2013 meski masih uji coba selama 2 tahun.
Namun seiring dengan pelaksanaannya, Aliansi Apoteker memberi gugatan pada pelaksanaan UKAI karena pembiayaan yang dianggap tidak transparan. Dimana pembayaran senilai Rp. 600.000, tidak sepaket dengan SKPA (Sertifikat Kompetensi Profesi Apoteker) yang seharga Rp. 500.000, kemudian STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) seharga Rp. 170.000, Rp. 120.000 untuk UKTA  dan Rp. 50.000. Belum lagi dengan Try Out yang juga seharga Rp. 600.000 yang notabenenya hanya untuk menguji kemampuan kompetensi namun dimasukkan dalam rangkaian UKAI.
Tahun 2016, UKAI yang sudah menjadi ujian somatif yang mengharuskan mahasiswa profesi apoteker untuk melulusi UKAI. Dimana jika tidak, maka mahasiswa profesi apoteker tidak berhak untuk wisuda. Dengan kata lain harus memperpanjang masa perkuliahan. Selain itu, adanya kerancuan dimana penyelenggaraan UKAI dilakukan oleh Organisasi profesi (IAI) yang seyogyanya mengurus seluruh anggota yang ada dikeprofesian tanpa berhak mengurus pendidikan profesi yang menjadi tanggung jawab APTFI.
Belum selesai masalah terkait UKAI saat ini, muncul isu OSCE yang akan menjadi rangkaian Exit Exam di tahun 2018. Kemungkinan besar OSCE dengan pembiayaan Rp. 1.500.000 pada awalnya hanya sebagai ujian formatif namun tidak menutup kemungkinan ditahun berikutnya akan menjadi uji somatif. Jika merujuk pada regulasi, terdapat undang-undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, serta Permendikbud tahun 2014 tentang Standar Kompetensi Pendidikan Tinggi Indonesia yang didalamnya memang termaktub terkait standar kompetensi profesi. Hal ini memang perlu karena dapat menjamin mutu tenaga keprofesian selain itu tenaga profesi dari luar negeri tidak semena-mena dapat masuk dalam negeri tanpa memenuhi standar kompetensi yang berlaku.
Namun permasalahannya adalah hingga saat ini tidak adanya pedoman pelaksanaan uji kompetensi sehingga yang dilakukan selama ini hanya bersifat instruksional, tidak berlandaskan atas undang-undang sehingga otoritas pelaksanaan, peraturan pembiayaan dan hal-hal teknisi lain dapat dengan mudah menjadi permainan pihak-pihak otoriter. Begitupun terkait istilah UKAI ini.  Berdasarkan PP No 51 2009, Apoteker adalah orang yang sudah menyelesaikan pendidikan profesi apoteker dan telah diambil sumpah jabatan apotekernya. Sehingga jika dikaitkan dengan kita yang masih mahasiswa profesi apoteker maka seharusnya kita tidak berhak mengikuti UKAI. Olehnya UKAI tentunya harus berubah dari segi nama, bukan lagi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia melainkan Ujian Kompetensi Mahasiswa Profesi Apoteker Indonesia. Begitupun dengan teknisnya yang perlu dibenahi baik dari segi regulasi, transparansi pembayaran serta organisasi yang memiliki otoritas dalam menyelenggarakannya.